Bulan Oktober sudah mau selesai. Berarti sebentar lagi bulan
November, lalu Desember.
Ah, lalu dua bulan lagi aku genap 25 tahun. Dan dua bulan
lagi pula sepupuku (yang lebih muda dariku setahun) akan menikah. Aku sih sudah
tahu apa pertanyaan yang pasti akan memburuku. “Nifa kapan nyusul?” atau “Masa
kesusul Firdha?” atau “Pacarnya mana nih?”.
Sebetulnya aku tidak mempermasalahkan itu. Bagiku, jodoh di
tangan Allah. Bukan mauku jika sampai saat ini aku belum bertemu atau
dipertemukan dengan dia. Mungkin memang belum ada momentum yang tepat, atau aku
masih kurang memantaskan diri. Tapi, semakin hari, mama dan adikku mulai sering
bertanya. Kapan Mbak Nifa mau mulai mencari?
Menjadi seseorang yang sulit bergaul, bukan pilihanku. Dan terkadang
aku jadi menyalahkan diri sendiri ketika aku jadi tidak bisa dekat dengan
laki-laki karena hal ini. Sekalinya dekat, mentoknya hanya sampai di ‘zona
teman’ saja. Sakit? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi. Aku bukan orang yang
bisa bilang ‘suka’ begitu saja kan.
Aku memiliki kecenderungan membuat diriku tidak dipandang
seperti wanita ketika sedang bersama teman-teman lelakiku. Mengerti kan? Jadi sepertinya
mereka menganggapku sama seperti mereka, laki-laki juga. Padahal biar
bagaimanapun aku ini perempuan. Mungkin itu juga yang membuat mereka tidak pernah
membiarkan aku melewati ‘zona teman’ itu.
Nah, aku sekarang punya seorang sahabat, ya sebutlah sahabat
ya karena kami dekat lebih dari teman tapi tidak lebih dari itu juga. Karena aku
jarang bisa dekat dengan teman laki-laki, mama jadi sering menjodoh-jodohkan. Salahku
juga sih karena aku sering cerita dia begini, dia begitu. But then, the
statement came.
“Kamu sama dia aja, Mbak. Mama setuju deh. Anaknya baik,”
ucap Mama suatu hari.
Aku jujur saja kaget. Sahabatku itu memang sering main
setiap kali dia sedang ada waktu. Tapi, dia sepertinya tidak pernah melihatku
seperti ‘perempuan’ (sedihnya). Dan diawali dengan ucapan mama (yang aku tidak
hiraukan) aku jadi mulai berpikir. Iya sih, memang dia baik. Perawakannya pun
tidak buruk. Agamanya pun sepertinya bagus. Lalu, hatiku mulai condong. Dan setiap
kali mama mengatakan itu, aku hanya bisa bilang “Apaan sih, Maaaa...” tapi
diam-diam hatiku mengamini. Jika Allah memang menakdirkan aku dengannya,
aamiin, batinku.
Tapi, aku ragu. Apakah aku memang suka atau hanya karena
mama sering meledekku dan aku agak... desperate? Entahlah. Akhirnya, perlahan
aku berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Ditambah lagi, kemudian aku tahu
dia sudah punya pacar.
Lalu, bagaimana? Entahlah. Sekarang aku hanya berusaha untuk
memantaskan diri. Berdoa juga. Apalagi sekarang, seperti yang sudah kujelaskan
di atas, mama dan adikku mulai banyak tanya tentang hal ini. Sudah tidak lagi ‘santai’
kalau dulu aku bilang. Posisiku kini sama dengan teman-teman yang juga mulai
didesak. Tapi aku bisa apa. Aku memang belum ada rencana (setidaknya untuk
tahun ini dan tahun depan). Dan aku juga tidak punya target. Oh, aku dulu punya
target. Tapi targetku sudah lewat. Jadi aku hanya bisa berdoa dan berharap
suatu saat akan dipertemukan.
Aku tahu yang namanya jodoh (katanya) jangan ditunggu. Tapi dicari.
Ya, aku juga sambil mencari. Semoga saja Allah mendengar doaku. Paling tidak,
doa mama. Doa adikku.
Dua bulan lagi aku 25 tahun. Entah apakah aku siap
menghadapi ‘Sindrom 25’ atau itu hanya mitos saja. Tapi semoga di 25 tahun ini
aku bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan siap menghadapi apapun. Pun jika Allah memberiku jodoh di usia ini, semoga ia adalah orang yang sayang kepada keluargaku dan dapat membimbingku ke jalan yang lebih baik. Aamiin.
Love,
Nifa.